Merekam Relasi Manusia, Unggas, dan Flu Burung

Posted in http://www.koran-jakarta.com/details.php?cid=1&id=5687

Seorang pria membopong seekor ayam jantan berwarna putih. Ia berdiri tegak bertelanjang dada dan hanya mengenakan sarung bermotif kotak-kotak. Tato menghiasi dada hingga lengannya. Apa yang menarik dari pemandangan seperti ini?
Bagi orang awam, pemandangan itu barangkali tak bermakna apa-apa. Namun, tidak demikian halnya bagi Kemal Jufri. Lewat bidikan kameranya, ia mengabadikan pria yang bernama Ketut Widiana tadi. Ketut adalah pria asal Bali yang memiliki 40 ekor ayam yang dijadikan objek foto oleh Kemal.

Dalam karyanya ini, Kemal memotret gambaran hidup seorang pria Bali yang kehidupan sehari-harinya bergumul dengan unggas (ayam). Foto-foto ini ia pamerkan di Galeri Foto Antara, Jakarta, sejak pekan lalu sampai akhir Desember mendatang. Pameran yang diberi tema Human Faces of Avian Influenza ini menghadirkan sekitar 60 lebih foto yang diformat dalam bentuk serial dari tiga fotografer, yakni Kemal Jufri, Rony Zakaria, dan Danu Primanto. Karya mereka ini mencoba mengangkat isu flu burung ke permukaan melalui foto-foto yang memvisualisasikan kehidupan masyarakat Indonesia yang tidak pernah lepas dari unggas ini.

Lewat seni fotografi, para praktisi media ini mencoba melihat hubungan masyarakat Indonesia dengan unggas dari berbagai aspek kehidupan. Ketut, misalnya, selama 20 tahun lebih menggantungkan hidupnya dari ayam-ayam peliharaanya itu. Pria berusia 57 tahun ini menaruh asanya kepada hewan kesayangannya yang sering diadu dengan ayam lainnya di ajang sabung ayam di dekat rumahnya di Tajen, Bali.

Kalau menang, ia akan membawa segepok lembaran rupiah ke rumahnya untuk menghidupi tiga istri dan 11 anaknya. Karya Kemal berjudul Of Fowls and Men, dengan jelas merekam jejak kehidupan keseharian Ketut. Mulai dari memasang taji di kaki ayam sampai aktivitasnya di tempat sabung ayam.

Di tengah-tengah isu epidemi flu burung yang memancarkan teror ke dalam benak masyarakat Indonesia, usaha pengendalian dan pencegahan avian influenza di Indonesia sudah dilakukan berbagai pihak. Tak terkecuali praktisi media. Pada Juni lalu, Departemen Pertanian bersama Food and Agriculture Organization (FAO) PBB meluncurkan sebuah inisiasi media yang berjudul Media Partnership: Human Faces of Avian Influenza untuk melaporkan dan mendokumentasikan evolusi dari dampak flu burung di Tanah Air. “Tujuan pameran ini untuk menyampaikan kondisi terkini tentang flu burung kepada masyarakat,” kata kurator pameran, Oscar Motuloh.

Rony, contohnya, menghadirkan sederet foto yang diberi judul The Shadow of Pandemic. Karyanya memvisualisasikan beragam aktivitas masyarakat yang berhubungan dengan unggas. Seperti foto seorang bocah pria yang berdiri di depan peternakan ayam. Hal yang sama juga terdapat pada rangkaian karya Danu yang berjudul Sayap Terkembang, yang menyajikan transaksi jual-beli unggas di pasar tradisional, Yogyakarta. “Karya mereka ini menyorot tradisi kehidupan masyarakat Indonesia dengan unggas,” jelas Oscar.

1 Comment(s)

  1. terimakasih informasi nya, sangat berguna dan bermanfaaat buat saya….
    makasih dan salam kenal


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a comment